MYPALABUHANRATU.COM — Suasana Jumat (18/9) di Palabuhanratu terasa sedikit berbeda bagi ratusan pengemudi ojek online (ojol). Di tengah rutinitas menyusuri aspal pesisir demi target penumpang, mereka diajak menepi sejenak oleh rekan-rekan dari DPC GRIB Jaya Kabupaten Sukabumi.
Bukan untuk urusan berat, melainkan berbagi rezeki lewat agenda rutin Jumat Berkah. Ratusan paket sembako dibagikan siang itu, tapi esensi pertemuannya jauh lebih dalam dari sekadar serah terima bantuan.
Sekretaris Cabang 1 DPC GRIB Jaya Kabupaten Sukabumi, Sep Radi Priadika, menyebut para pengemudi ojol ini sebagai ‘penggawa yang sedang berjihad’ demi keluarga. Namun, di balik pembagian sembako, ada pesan spesifik yang ingin disampaikan ke publik luas.
Belakangan ini, kerap berseliweran hoaks dan isu miring di tingkat nasional yang mencoba menyeret komunitas ojol ke dalam pusaran huru-hara. Lewat pertemuan di Palabuhanratu ini, GRIB Jaya Sukabumi mengambil sikap untuk mematahkan narasi negatif tersebut.
“Kita tahu isu-isu nasional banyak hoaks yang beredar terkait keterlibatan ojol. Nah, ini kami buktikan di daerah bahwa GRIB dan ojol itu bersinergi. Kita samakan persepsi, bersilaturahmi, jadi tidak berhenti pada kegiatan pembagian bantuan saja,” ujar Sep Radi.
Gaya merangkul komunitas jalanan ini rupanya sejalan dengan DNA organisasi yang ditekankan oleh pucuk pimpinan. Ketua Umum Haji Hercules dan Ketua DPC Kabupaten Sukabumi H. Bram secara khusus membangun kesadaran dalam organisasi untuk rutin turun tangan membawa manfaat langsung bagi warga.
Meski begitu, Sep Radi menegaskan bahwa aksi turun ke jalan ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban atau menjalankan instruksi atasan, melainkan bentuk kesadaran murni organisasi sebagai kontrol sosial di masyarakat.
Aksi solidaritas ini nyatanya tidak hanya terpusat di Palabuhanratu. Di hari yang sama, DPC GRIB Jaya juga merangkul para pengemudi ojol di wilayah Cisaat, dengan turut didampingi langsung oleh Kapolres Sukabumi Kota.
Di akhir pertemuan, komunikasi dua arah yang cair terjalin di antara keriuhan jalanan. Bagi para ojol, sembako yang dibawa pulang jelas meringankan beban dapur. Namun bagi dinamika sosial di Sukabumi, momen duduk bareng ini membuktikan bahwa rasa saling menghargai dan solidaritas di jalanan tetap menjadi benteng terkuat menangkal hoaks.

