MYPALABUHANRATU.COM— Setelah berbulan-bulan didera cuaca panas ekstrem dan kemarau yang seolah tanpa akhir, masyarakat Kabupaten Sukabumi, khususnya di kawasan pesisir Palabuhanratu dan sekitarnya, kini mulai bisa menghirup udara sejuk. Hujan perlahan mulai turun membasahi bumi dalam beberapa hari terakhir. Namun, di balik rasa syukur atas datangnya air, ada alarm kesehatan yang harus segera diwaspadai.
Masa peralihan musim atau pancaroba—dari kemarau panjang menuju musim penghujan—dikenal dalam dunia medis sebagai periode yang paling rawan bagi daya tahan tubuh. Perubahan suhu dan kelembapan udara yang drastis menjadi lingkungan yang sangat ideal bagi virus, bakteri, dan parasit untuk berkembang biak dengan cepat.
Secara medis, masa transisi ini memaksa tubuh bekerja lebih keras untuk beradaptasi dengan suhu yang fluktuatif; pagi bisa sangat terik, lalu sore tiba-tiba hujan deras dan dingin. Jika kondisi fisik sedang tidak prima, benteng imunitas akan mudah jebol.
Merujuk pada berbagai literatur kesehatan dan pedoman umum Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, setidaknya ada empat ancaman penyakit utama yang trennya selalu melonjak setiap kali musim pancaroba tiba:
1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Debu sisa kemarau yang beterbangan dan bercampur dengan kelembapan udara awal musim hujan menjadi pemicu utama ISPA, flu, batuk, dan radang tenggorokan. Gejala seperti demam, bersin, dan hidung tersumbat sangat mudah menular, terutama pada anak-anak dan lansia yang sistem imunnya lebih rentan.
2. Demam Berdarah Dengue (DBD) Hujan di awal musim sering kali menyisakan genangan-genangan air bersih di barang bekas, talang air, atau pot tanaman. Genangan ini adalah tempat favorit bagi nyamuk Aedes aegypti untuk bertelur. Pakar kesehatan selalu menyarankan masyarakat untuk segera menggalakkan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang) sejak rintik hujan pertama turun.
3. Diare dan Gangguan Pencernaan Krisis air bersih saat kemarau yang mendadak bercampur dengan limpasan air hujan sering kali mencemari sumber air tanah sumur warga. Bakteri mematikan seperti E. coli mudah berkembang dan memicu kasus diare hingga muntaber, terutama jika warga abai terhadap sanitasi dan tidak memasak air minum hingga benar-benar mendidih.
4. Demam Tifoid dan Penyakit Kulit Perubahan lingkungan dan genangan air kotor juga meningkatkan risiko penyakit demam tifoid (tifus) akibat lalat yang hinggap di makanan terbuka, serta infeksi jamur atau gatal-gatal pada kulit akibat kontak dengan genangan air hujan.
Langkah Antisipasi: Perkuat Imun dari Dalam
Untuk menghindari ancaman-ancaman tersebut, kunci utamanya ada pada perbaikan pola hidup. Berikut adalah rutinitas yang wajib diterapkan di masa pancaroba:
- Jaga Asupan Nutrisi dan Hidrasi: Pastikan piring makan Anda kaya akan vitamin C dan E (dari buah dan sayur) untuk memperkuat sel darah putih. Jangan kurangi minum air putih minimal 2 liter sehari meski cuaca tidak lagi panas, guna menjaga metabolisme tetap seimbang.
- Prioritaskan Istirahat: Hindari begadang. Kurang tidur adalah musuh utama sistem imun. Tubuh yang kelelahan akan sangat mudah diretas oleh virus flu.
- Tetap Aktif Bergerak: Jangan jadikan hujan sebagai alasan untuk malas bergerak. Olahraga ringan di dalam rumah (seperti stretching atau yoga) selama 15-30 menit sangat efektif menjaga sirkulasi darah.
- Disiplin Kebersihan Diri: Jadikan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah beraktivitas dari luar tangga sebagai prosedur wajib di rumah.
- Siapkan “Amunisi” Luar Ruangan: Jangan pernah bepergian tanpa jas hujan atau payung di dalam tas. Gunakan pakaian yang cukup hangat atau jaket untuk mencegah tubuh mengalami shock suhu saat terkena angin dingin atau gerimis.
Peralihan musim tidak harus selalu diakhiri dengan kunjungan ke klinik atau rumah sakit. Dengan kesadaran menjaga pola hidup sehat, warga Sukabumi tetap bisa menikmati berkah hujan dengan tubuh yang bugar dan aktivitas yang produktif.

