SUKABUMI — Berawal dari ikhtiar merawat warisan leluhur di pelosok desa, sebuah gagasan tentang ketahanan pangan dari Kabupaten Sukabumi kini bergema di panggung nasional.
Asep Hidayat Mustopa, sosok di balik lahirnya Desa Wisata Hanjeli di Waluran Mandiri, baru saja menorehkan sejarah membanggakan. Ia resmi diumumkan masuk ke dalam daftar 3 Besar Finalis DPD RI Awards 2026 untuk kategori Penggerak Desa Mandiri Pangan.
Namun, bagi Asep, pencapaian ini jauh dari sekadar glorifikasi nama di atas piagam. Masuknya Desa Wisata Hanjeli ke jajaran elite nasional adalah buah dari perjalanan panjang dan berdarah-darah dalam mengangkat kembali derajat ‘Hanjeli’—komoditas pangan lokal yang sempat terlupakan—menjadi kekuatan ekonomi, budaya, dan pariwisata.
“Ini bukan dibangun dalam satu atau dua hari. Ada banyak proses, keterbatasan, dan keyakinan yang harus terus dijaga, bahkan ketika hasilnya belum terlihat,” ungkap Asep penuh haru.
Di Waluran Mandiri, Hanjeli tidak lagi sekadar tanaman pekarangan. Lewat sentuhan inovasi dan pemberdayaan, biji-bijian kaya gizi ini disulap menjadi beragam produk olahan bernilai jual tinggi. Lebih dari itu, Hanjeli menjadi roda penggerak kemandirian masyarakat, khususnya bagi kelompok perempuan dan keluarga petani di pedesaan yang kini memiliki ruang untuk berdaya secara ekonomi.
Asep menyadari betul, keberhasilan ini bukanlah panggung tunggal miliknya. Ia menyebut pencapaian ini sebagai kemenangan kolektif. Kemenangan bagi para petani, pelaku UMKM, akademisi, peneliti, komunitas, media, hingga masyarakat yang percaya bahwa desa kecil sekalipun bisa berkontribusi besar bagi negara.
“Desa tidak harus menunggu menjadi besar untuk bisa memberikan kontribusi bagi Indonesia. Desa bisa memulai dari kekayaan alamnya, pengetahuan leluhurnya, dan keberanian warganya untuk berinovasi,” tegasnya.
Meski kini telah mendapat pengakuan di level Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Asep tidak ingin euforia ini berhenti pada sebatas apresiasi. Ia melempar harapan besar kepada pemerintah—dari tingkat desa hingga pusat—agar penghargaan ini diterjemahkan menjadi dukungan nyata. Ruang pendampingan, penguatan teknologi pengolahan, akses pasar, hingga riset inovasi sangat dibutuhkan agar pangan lokal memiliki daya saing yang setara.
Mimpinya sederhana namun monumental: Hanjeli tak boleh hanya menjadi cerita masa lalu, melainkan harus kembali hadir di meja makan keluarga Indonesia dan menjadi daya tarik gastronomi kebanggaan bangsa.
Bagi warga Waluran dan Sukabumi pada umumnya, lolosnya Desa Wisata Hanjeli ke Top 3 DPD RI Awards 2026 adalah sebuah pesan pembuktian yang kuat. Jangan pernah meremehkan potensi yang tumbuh dari rahim desa. Sebab, sesuatu yang hari ini terlihat kecil, jika dirawat dengan kesungguhan, kelak akan menjadi benteng pertahanan pangan terkuat bagi Indonesia.

