Minggu, 25 Oktober 2026
Berbagi informasi untuk semua

Peringatan Hari Santri Sukabumi: Momen Kebangkitan Resolusi Jihad di Era Digital Menuju Indonesia Emas 2045

SUKABUMI — Jika 81 tahun lalu ‘Resolusi Jihad’ pada 22 Oktober 1945 menggerakkan para santri mengangkat senjata bambu runcing demi mempertahankan kemerdekaan, tantangan hari ini rupanya telah jauh berubah. Di era modern yang serba cepat ini, santri tidak lagi sekadar dituntut fasih mengaji, melainkan harus melek teknologi dan menjadi mesin penggerak inovasi daerah.

Pesan tegas nan menggugah ini disuarakan langsung oleh Bupati Sukabumi, H. Asep Japar, saat memimpin Upacara Peringatan Hari Santri Tingkat Kabupaten Sukabumi Tahun 2026 di Lapang Stadion Korpri Gelanggang Cisaat, Kamis (22/10/2026).

Di hadapan barisan santri dan tamu undangan—turut hadir Wakil Bupati H. Andreas dan Sekda H. Ade Suryaman—Bupati mengajak seluruh elemen pondok pesantren untuk memaknai Hari Santri bukan sekadar seremonial napak tilas sejarah.

“Peristiwa (Resolusi Jihad) mengajarkan bahwa santri bukan hanya penjaga nilai-nilai agama, melainkan bagian penting dari perjalanan bangsa. Mari kita jadikan peringatan ini sebagai momentum memperkuat kebersamaan, semangat pengabdian, dan meneguhkan komitmen membangun Kabupaten Sukabumi,” ajak Bupati Asep Japar.

Menurut Bupati, medan juang santri saat ini adalah mewujudkan cita-cita besar Indonesia Emas 2045. Untuk bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain di dunia, Kabupaten Sukabumi sangat membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) santri yang unggul.

Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) kini menjadi sebuah keharusan. Santri ditantang untuk bisa menghadirkan solusi konkret bagi persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.

“Bangsa yang kuat tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas otaknya saja. Kita butuh generasi yang jujur, berintegritas, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama. Jadilah generasi yang teguh memegang keislaman, namun tetap terbuka terhadap kemajuan,” tegasnya.

Meski didorong untuk melesat maju bersama teknologi, Bupati mewanti-wanti agar lompatan tersebut tidak mencabut santri dari akar tradisi luhurnya. Di sinilah pondok pesantren memegang peranan krusial. Pesantren dituntut untuk bisa menjalankan tiga fungsi utamanya secara seimbang: sebagai pusat pendidikan karakter, wadah dakwah, sekaligus motor pemberdayaan masyarakat sekitar.

Sebagai puncak kemeriahan dan penguatan barisan di momen penuh makna tersebut, upacara di Cisaat ini turut diwarnai dengan agenda bersejarah. Bupati Asep Japar secara resmi mengukuhkan dan melantik Panglima Santri Kabupaten Sukabumi.

Langkah ini menjadi simbol komando yang kuat, menegaskan kesiapan para santri Sukabumi untuk terus berdiri di garis terdepan dalam menjaga moral umat sekaligus mengawal pembangunan daerah.