Minggu, 25 Oktober 2026
Berbagi informasi untuk semua

Menolak Punah Digempur Makanan Kekinian, Lotek dan Karedok Tetap Jadi ‘Comfort Food’ Abadi Khas Sunda

MYPALABUHANRATU.COM — Udara sejuk khas Sukabumi memang paling pas disandingkan dengan kudapan yang kaya rasa. Di tengah menjamurnya coffee shop bergaya industrial dan invasi jajanan ala Korea yang memenuhi sudut-sudut kota hingga ke Palabuhanratu, ada satu warisan kuliner yang tak pernah kehilangan takhtanya: Lotek dan Karedok.

Bagi orang Sunda asli, suara ulekan batu yang beradu dengan cobek adalah harmoni pengantar selera. Aroma khas dari kencur (cikur), bawang putih, terasi bakar, dan gula aren yang dilumat bersama kacang tanah sangrai, seolah menjadi mesin waktu yang melempar memori kita ke masakan buatan nenek di kampung halaman.

Meski sering dianggap serupa oleh pendatang, Lotek dan Karedok sejatinya adalah dua mahakarya ‘salad tradisional’ Sunda yang berbeda kasta dalam penyajiannya.

Karedok: Sensasi Renyah Sayuran Segar Jika Anda pencinta tekstur renyah, Karedok adalah jawabannya. Kuliner ini menggunakan sayuran yang 100 persen mentah. Kacang panjang, daun kemangi, kol, terong bulat, tauge, hingga irisan mentimun dipotong kecil dan langsung diaduk bersama bumbu kacang yang kental. Sensasi segar dari sayuran mentah berpadu dengan aroma kemangi dan kencur yang kuat, menciptakan ledakan rasa pedas-gurih yang menyegarkan.

Lotek: Hangat, Lembut, dan Mengenyangkan Sebaliknya, Lotek hadir bagi mereka yang mencari kehangatan. Semua sayuran dalam Lotek—mulai dari kangkung, bayam, kacang panjang, labu siam, hingga kol—direbus terlebih dahulu. Setelah layu dan hangat, barulah sayuran ini dicampur dengan bumbu kacang yang biasanya ditambahkan sedikit kentang rebus atau ubi tumbuk agar tekstur bumbunya lebih creamy dan legit.

Di beberapa tempat, baik Lotek maupun Karedok tidak pernah disajikan sendirian. Kehadiran kerupuk aci merah, irisan tahu goreng, serta taburan bawang merah goreng adalah syarat wajib. Beberapa penikmat bahkan mencampurnya dengan potongan ketupat atau nasi putih hangat, menjadikannya menu makan siang yang murah, padat gizi, dan mengenyangkan.

Bertahan Lintas Generasi Menariknya, kuliner jadul ini tak hanya dinikmati oleh kalangan orang tua. Kini, banyak anak muda Sukabumi yang kembali memburu warung-warung Lotek dan Karedok tersembunyi (hidden gem) di gang-gang kecil hanya demi sepiring comfort food yang tak bisa digantikan oleh makanan cepat saji.

Di balik kesederhanaannya, seporsi Lotek dan Karedok bukan sekadar urusan mengenyangkan perut. Ia adalah identitas orang Sunda, sebuah harmoni rasa yang mengajarkan bahwa untuk menikmati makanan lezat berselera tinggi, kita tidak harus selalu kehilangan akar tradisi.

Jadi, sudahkah Anda mencium aroma kencur dari cobek pedagang Lotek langganan Anda hari ini?