Senin, 26 Oktober 2026
Berbagi informasi untuk semua

Menelisik Seupan Gatot: Karbohidrat Lama Warisan Sunda yang Kian Langka di Jalanan

MYPALABUHANRATU.COM — Di tengah gempuran jajanan modern serba instan, seupan gatot bertahan sebagai salah satu jejak gastronomi purba yang pernah menjadi penopang ketahanan pangan masyarakat tanah Sunda.

Kuliner berbahan dasar singkong ini bukan sekadar penganan jadul penolak lapar, melainkan bentuk kecerdasan lokal dalam mengolah dan mengawetkan bahan pangan alami melalui proses fermentasi tradisional.

Meski sering dianggap sebagai makanan rakyat jelata masa lalu, olahan gaplek ini menyimpan profil nutrisi unik yang menarik jika ditelisik dari kacamata gizi modern.

Membedah Fakta Karbohidrat dan Mitos Gizi Gatot

Bahan baku utama gatot adalah singkong yang dikupas lalu dikeringkan di bawah terik matahari hingga menjadi gaplek. Proses penjemuran alami ini memicu munculnya kapang baik yang mengubah warna singkong menjadi kehitaman dengan tekstur kenyal dan aroma yang khas.

Secara ilmiah, total kandungan karbohidrat dan beban glukosa pada gatot sebenarnya setara dengan nasi putih. Namun, proses pengeringan ulang dan fermentasi menciptakan pati resisten serta serat pangan yang lebih tinggi.

Pati resisten ini membuat proses pencernaan berlangsung lebih bertahap di dalam usus, sehingga energi dilepaskan secara perlahan dan memberikan efek kenyang yang lebih bertahan lama dibanding olahan pati murni.

Asa Pak Agus Menjaga Pangan Tradisional di Jalanan Cikakak

Meski kaya akan nilai sejarah dan memiliki keunikan tekstur, keberadaan seupan gatot kini kian terpinggirkan dari panggung kuliner utama.

Di wilayah Cikakak hingga Palabuhanratu, napas kuliner jadul ini salah satunya dirawat oleh Pak Agus (55), seorang pedagang keliling yang saban hari setia mengayuh sepeda motornya menjajakan seupan gatot hangat.

Dengan membawa sekitar 70 paket seupan gatot yang dibanderol Rp5.000 per porsi, Pak Agus menyusuri rute harian mulai dari pemukiman warga di Cikakak, majlis pengajian ibu-ibu, hingga kawasan Pasar Palabuhanratu.

“Kadang habis, kadang masih ada sisa. Tapi ya tetap keliling, karena masih ada saja langganan yang nyari makanan kampung seperti ini,” tutur Pak Agus saat ditemui di sela aktivitas jualannya, Sabtu (19/9/2026).

Menjaga keberadaan kuliner tradisional seperti seupan gatot bukan hanya soal merawat nostalgia masa lalu, melainkan bentuk apresiasi terhadap warisan olahan pangan lokal yang kian tergerus zaman.