Minggu, 25 Oktober 2026
Berbagi informasi untuk semua

Menikmati Malam di Jalan Siliwangi Ditemani Bandrek Ibu Jawa: Murah, Hangat, Menyehatkan, dan Penuh Inspirasi

MYPALABUHANRATU.COM – Angin malam yang berembus dari arah Samudra Hindia kerap membuat udara di kawasan Palabuhanratu terasa cukup dingin. Saat malam mulai larut, deretan trotoar di sepanjang Jalan Raya Siliwangi justru mulai hidup. Di atas hamparan tikar sederhana bergaya lesehan, kehangatan itu menguar dari sebuah gerobak bertuliskan “Bandrek Ibu Jawa”.

Yang membuat Bandrek Ibu Jawa istimewa dan selalu dirindukan pelanggan adalah proses penyajiannya yang merawat tradisi. Alih-alih menggunakan kompor gas modern, panci besar berisi bandrek ini terus dipanaskan di atas tungku dengan bara api yang menyala konstan. Proses pemanasan perlahan di atas bara arang ini tidak hanya menjaga kehangatan minuman pada suhu yang pas, tetapi juga menguarkan aroma smokey alami yang khas dan menggugah selera.

Bahan baku utamanya pun tak main-main. Ibu Didah secara khusus meracik bandreknya menggunakan jahe merah pilihan. Perpaduan jahe merah yang pekat, gula aren, dan rempah yang direbus perlahan di atas bara api ini terbukti memiliki segudang manfaat kesehatan. Selain ampuh mengusir hawa dingin, jahe merah dikenal andal melancarkan peredaran darah, meredakan masuk angin, hingga menjaga daya tahan tubuh di tengah cuaca pesisir yang tak menentu.

Sensasi hangat itu semakin kaya karena Bandrek Ibu Jawa disajikan dengan isian topping kolang-kaling yang kenyal dan kerukan kelapa muda. Sebagai pendamping wajib, aroma ketan bakar dan pisang bakar yang juga mengepul dari atas panggangan arang melengkapi suasana nongkrong santai di bawah temaram lampu jalanan Palabuhanratu.

Daya tarik utama kedai lesehan ini juga terletak pada harganya yang sangat ramah di kantong. Semua menu, mulai dari bandrek komplet hingga aneka penganan bakar, dibanderol hanya di kisaran Rp10.000 hingga Rp12.000.

Fauzan, salah seorang pelanggan setia yang kerap menghabiskan malam di sana, mengakui bahwa mampir ke kedai ini sudah menjadi rutinitas sepulang kerja.

“Jadi kalau malam hari pulang kerja biar di perjalanan tidak terlalu dingin badan, ya mampir nge-bandrek dulu, sama ketan bakar. Dua puluh empat ribu udah cukup kenyang dan hangat buat badan,” ujar Fauzan.

Sosok Tangguh di Balik Gerobak

Di balik nikmatnya racikan jahe merah melegenda itu, ada tangan terampil Ibu Didah (57). Perempuan paruh baya ini adalah nyawa dari Bandrek Ibu Jawa. Uniknya, meski menggunakan nama “Ibu Jawa”, Didah sejatinya adalah perempuan tulen berdarah Sunda. Julukan itu terlanjur melekat karena banyak pelanggan di masa lalu yang kerap menyapanya demikian, hingga akhirnya ia mematenkan nama tersebut sebagai identitas usahanya.

Buka setiap hari mulai pukul 17.00 hingga 23.00 WIB, Ibu Didah mulai merintis usahanya sejak tahun 2008. Selama 18 tahun berjualan, perjalanannya tidak selalu mulus. Ia mengaku sudah empat kali berpindah-pindah lokasi jualan, namun tak sekali pun terlintas di pikirannya untuk meninggalkan profesi yang membesarkan namanya ini. Kedainya kini menjadi jujugan favorit, tidak hanya bagi warga lokal Sukabumi, tetapi juga wisatawan dari luar kota yang kebetulan melintas di Palabuhanratu.

Di usianya yang menginjak 57 tahun, semangat Ibu Didah tak sedikit pun meredup. Alih-alih memilih pensiun santai di rumah dan menggantungkan hidup pada pemberian suami atau anak-anaknya, ia memilih jalan kemandirian. Menjadi pedagang memberikannya kebebasan dan kepuasan batin yang tidak bisa ditukar dengan materi.

“Sudah 18 tahun berjualan bandrek di Palabuhanratu, dan sudah beberapa kali pindah. Semua usaha itu ada tantangannya, ada rame ada sepi, tapi tetap kita senang aja karena kita sendiri yang ngatur usahanya,” tuturnya sambil tersenyum, tangannya cekatan membolak-balik ketan di atas panggangan bara api.

Keteguhan Ibu Didah adalah potret nyata kemandirian perempuan. Di sudut Jalan Siliwangi, ia tidak sekadar menyajikan minuman dari jahe merah penghangat tubuh, tetapi juga merawat warisan kuliner lokal sekaligus menyuguhkan inspirasi tentang keuletan hidup yang terus menyala—seterang bara api di tungku gerobaknya.