Minggu, 25 Oktober 2026
Berbagi informasi untuk semua

Menembus Lorong Waktu di Cisolok: Mengupas Sejarah 6 Abad Tradisi Seren Taun Kasepuhan Gelar Alam

MYPALABUHANRATU.COM — Kabut tipis yang menyelimuti perbukitan Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, seolah menjadi gerbang pembatas antara dunia modern dan peradaban masa lampau. Di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak inilah, masyarakat Adat Kasepuhan Gelar Alam (yang sebelumnya lekat dengan nama kesatuan adat Banten Kidul) merawat sebuah mahakarya kebudayaan bernama Seren Taun.

Melihat perayaan Seren Taun yang baru saja menginjak usia ke-658 pada tahun 2026 ini, kita seakan diajak menaiki mesin waktu. Tradisi ini bukanlah festival wisata buatan yang dirancang untuk menarik tiket masuk. Seren Taun adalah detak jantung, napas spiritual, dan jalan hidup masyarakat adat yang garis keturunannya ditarik lurus hingga ke era Kerajaan Sunda Pajajaran di abad ke-14 (sekitar tahun 1368).

Secara etimologi, Seren bermakna menyerahkan atau menitipkan, sedangkan Taun berarti tahun. Seren Taun adalah ritual agung penyerahan hasil bumi (padi) selama satu tahun ke belakang untuk disimpan ke dalam lumbung sakral, sekaligus merapal doa keselamatan dan kesuburan untuk siklus tanam di tahun mendatang.

Wangsit Karuhun: Haram Menjual Padi

Di bawah kepemimpinan Ketua Adat Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, masyarakat Kasepuhan Gelar Alam memegang teguh Pikukuh Karuhun (aturan leluhur) yang sangat ketat, terutama dalam urusan pertanian.

Bagi kasepuhan ini, padi bukanlah komoditas komersial, melainkan simbol kehidupan (Dewi Sri atau Nyi Pohaci). Oleh karena itu, berlakulah hukum adat yang tak bisa ditawar: Pamali (pantangan) menjual beras atau padi. Padi hanya boleh ditanam, dipanen, disimpan, dan dikonsumsi.

Cara penanamannya pun tak tersentuh pupuk kimia atau mesin traktor. Semuanya menggunakan instrumen alam. Siklus tanam ditentukan oleh kemunculan rasi bintang Kidang dan Kerti di langit malam. Kearifan lokal inilah yang membuat Kasepuhan Gelar Alam memiliki kedaulatan dan ketahanan pangan yang absolut. Ratusan lumbung padi (leuit) mereka dilaporkan memiliki cadangan gabah yang cukup untuk menghidupi seluruh warga adat hingga puluhan tahun ke depan, melampaui konsep ketahanan pangan negara modern mana pun.

Ritus Sakral dan Gemuruh Kesenian Buhun

Perayaan Seren Taun biasanya berlangsung selama sepekan penuh, diakhiri dengan puncak acara yang memukau. Puncak ritual ini ditandai dengan prosesi Angkat Ampih Pare ka Leuit—memasukkan ikatan padi pilihan ke dalam Leuit Si Jimat (lumbung utama keramat milik ketua adat).

Sebelum padi masuk ke lumbung, ribuan warga dan tamu akan disuguhi parade kebudayaan yang menggetarkan dada. Ada arak-arakan Dongdang (tandu berisi hasil bumi), serta irama khas Rengkong—pikulan bambu berisi padi yang ketika dipanggul dan diayunkan akan menghasilkan suara gesekan bambu yang nyaring dan ritmis bak alunan musik.

Tak ketinggalan, kesenian buhun (kuno) lainnya turut mengambil panggung. Tabuhan Dog-dog Lojor, alunan Gondang (lesung kayu yang ditumbuk massal oleh para perempuan adat), hingga atraksi Debus dan Pencak Silat menjadi simbol pertahanan dan rasa syukur masyarakat yang agung.

Seren Taun di Kasepuhan Gelar Alam adalah bukti tak terbantahkan bahwa modernisasi tidak harus membunuh tradisi. Dengan tema filosofis “Nyoreang Alam Katukang, Nyawang Alam Nu Bakal Datang”, mereka mengajarkan kita satu hal penting: untuk bisa melangkah pasti ke masa depan, sebuah bangsa tidak boleh pernah lupa dari mana mereka berasal.