Minggu, 25 Oktober 2026
Berbagi informasi untuk semua

Aroma Sambal Honje dan Angin Laut Karang Hawu: Cara Warga Palabuhanratu Merayakan Akhir Pekan

MYPALABUHANRATU.COM — Angin sore berembus pelan dari arah Samudra Hindia, membawa buih-buih halus air laut yang menyapu bebatuan karang legendaris di Pantai Karang Hawu, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Namun, sepanjang akhir pekan ini, ada hal lain yang mengikat perhatian para pengunjung selain gulungan ombak dan lanskap tebingnya yang megah: aroma wangi asap kayu kelapa yang berpadu dengan keharuman segar bunga honje.

Di sepanjang deretan warung bambu sederhana yang menghadap langsung ke horizon laut, kuali-kuali kecil dan ulekan batu tak berhenti bekerja. Di sanalah kehangatan pesisir Palabuhanratu disajikan secara nyata—melalui tradisi kuliner lokal yang bersahaja namun membekal di ingatan.

Dari Tangan Nelayan ke Bara Arang

Bagi masyarakat pesisir Sukabumi, ikan bakar bukan sekadar menu makan siang. Ia adalah ritual penutup pekan yang merayakan hasil keringat para nelayan lokal. Saban pagi, perahu-perahu pukat membawa kakap merah, bawal laut, hingga tongkol segar langsung dari perairan Teluk Palabuhanratu menuju TPI (Tempat Pelelangan Ikan), sebelum akhirnya mendarat di balai-balai warung Karang Hawu.

Asep Supriatna (48), salah seorang pemilik warung bambu yang telah berjualan selama lebih dari 15 tahun di kawasan Karang Hawu, menyebut kunci kelezatan olahan laut di tempatnya terletak pada dua hal: kesegaran bahan dan sambal honje olahan khas dapur pesisir.

“Kalau ikannya baru diangkat dari laut, dagingnya sudah manis alami. Tidak perlu bumbu yang terlalu ramai. Cukup dibakar di atas arang kayu kelapa supaya asapnya wangi,” ujar Asep sembari mengipas bara api yang memerah, Sabtu (12/9).

Namun, bintang utama dari sajian ini berada pada ulekan sambalnya. Bunga honje—atau yang di banyak daerah dikenal sebagai kecombrang—dipetik segar dari kawasan perbukitan di sekitar Cisolok dan Palabuhanratu. Irisan halus kelopak honje yang merah keunguan diulek bersama cabai rawit merah, bawang merah lokal, terasi bakar, sedikit garam, dan perasan jeruk nipis.

Hasilnya adalah perpaduan rasa asam segar yang aromatis, gurih, dan pedas gigit yang seketika menetralkan rasa amis ikan bakar.

Tempat Pelarian dari Hiruk-Pikuk Kota

Daya tarik kesederhanaan ini memikat banyak warga lokal maupun wisatawan luar daerah yang sengaja datang bersama keluarga. Di bawah atap jerami warung bambu, berkumpul gelak tawa keluarga yang menikmati hidangan menggunakan tangan telanjang, beralaskan daun pisang segar.

Dimas Anggara (34), seorang pengunjung asal Bandung, mengaku selalu menyempatkan diri mampir ke Karang Hawu setiap kali berkunjung ke kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu. Bagi Dimas, kombinasi panorama laut dan kuliner lokal menghadirkan sensasi relaksasi yang sulit tandingannya.

“Di kota banyak restoran seafood modern, tapi rasanya beda jauh. Makan ikan bakar hangat pakai sambal honje langsung di tepi laut, ditemani angin sore dan suara ombak Karang Hawu itu punya efek healing tersendiri. Rasanya jujur dan sangat otentik,” tutur Dimas sembari menemani anak-anaknya bermain pasir.

Merawat Cita Rasa dan Identitas Geopark

Fenomena bergeliatnya wisata kuliner berbasis kearifan lokal ini tidak hanya menggerakkan roda ekonomi kecil para pedagang dan nelayan, tetapi juga memperkuat identitas Palabuhanratu sebagai bagian dari Unesco Global Geopark (UGGp). Keindahan geologi berupa batuan purba dan tebing Karang Hawu berkelindan harmonis dengan kekayaan budaya serta gastronomi masyarakatnya.

Saat matahari mulai bergeser ke ufuk barat dan memancarkan warna jingga keemasan di atas lautan, asap arang kayu kelapa di sepanjang pantai perlahan mengecil. Warga dan pengunjung mulai berkemas, membawa pulang kenangan tentang langit sore yang tenang, hangatnya kebersamaan, serta jejak rasa sambal honje yang akan selalu memanggil mereka untuk kembali ke Palabuhanratu. (YD)